Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita

Drama Per Gigi Bungsu-an

Gatau kenapa, di dunia ini harus ada orang yang gigi bungsunya tumbuh, sama yang gigi bungsunya engga tumbuh. I'm one of the orang yang gigi bungsunya tumbuh, EMPAT GIGI🫠🫠🫠 Dimulai dari pembersihan karang gigi sekitar bulan Juni 2024, bersihin karang giginya di @jasminedentalcare Makassar, you guys who live in Mks can come to them by booking via chat👍, ternyata gigi paling belakang di kanan atas itu tumbuhnya engga sama panjang dengan gigi yang ada di depan. Jadi ada space antara panjang gigi di paling belakang kedua dan gigi paling belakang  jadi kalau sikat gigi engga nyampe ke belakang nyikatnya. Menumpuklah sisa makanan disana, dan itu membuat gigi bungsunya jadi rapuh. Jadi giginya keropos sebagian, sehingga bikin lobangan besar di gigi itu. Kata dokternya, nanti kita cari waktu untuk cabut gigi yaa. I said Okeyy Setelah 2 minggu, ternyata karna dipakai ngunyah ya giginya, jadi ada banyak bakteri muncul di gigi itu, gusinya jadi bengkak. I never imagined, kalah gusi itu ka...

Anak Arsitektur ambil Arsitektur Lanskap opposite atau liniear sih?

Hello... It's me agaiiinnn Umara Udah lama banget ga pernah apdet tulisan di blog, kali ini pengen sharing karna ada beberapa orang yang lagi aktif nanya nih di DM instagram maupun WA. Saya mahasiswi S1 Arsitektur UIN Malang yang lulus tahun 2019, dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Arsitektur Lanskap IPB, banyak yang nanya, "Susah ngga sih masuk IPB?" "Arsitektur ambil Lanskap worth it ga sih ?" "Susah nggak kuliah di Lanskap?" Well, I will answer one by one . Pertama, masuk di IPB engga sesusah itu, engga ada tes tertulis ataupun tes wawancara,  tapi yang baru saya sadari di semester tiga ini, keluar dari IPB sulit cuuuy , wkwkwk sulitnya karna ada banyak banget yang harus diselesaikan buat ujian tesis. Kayak harus menghadiri seminar dari rumpun  ilmu lain, dan harus submit jurnal minimal SINTA2. Kedua, Arsitektur ambil Lanskap ilmu yang sejalan ga sih ? Well , ini agak bertolak belakang sebenernya , karna biarpun sama-sama Ars...

Perjalanan Belajar Magister 2 minggu

Sudah hampir dua Minggu saya menempuh pendidikan magister di IPB, biarpun daring tapi ilmu yang di dapat memang tak setengah setengah. Saya mulai sadar, kalau dulu temen-temen kuliah di UIN kayaknya pada santai dan hanya satu dua saja yang terlihat ambisius untuk nilai. Itu juga ga ada saling jatuh-menjatuhkan. Tapi setelah di IPB, semuanya seolah berbalik 180 derajat. Temen temennya semua rata-rata dari universitas ternama yang pinter nya ga ketulungan. Niat belajar mereka juga besar, saya yang hanya apalah ini, seperti harus berlari supaya bisa sampai garis "start" sedangkan teman yang lain nampaknya merangkak juga sampai ke garis "finish". Dan walau mereka sadar bahwa mereka bisa sampai ke garis "finish" dengan merangkak, tapi semuanya berlari, tinggallah saya di belakang yang masih berusaha menggapai garis "start".  Kenapa saya bilang begini, karena sistem pengumpulan online ini terkadang lewat Google Drive yg dapat diakses banyak orang, kita...

TAHUN 2020

Di akhir tahun 2019 lalu, saya sakit, sempat dua kali masuk Rumah sakit dan bukan dalam hitungan waktu yang sebentar. Sempat masuk di RS Malang, lalu ternyata masih berlanjut saat tiba di Pekanbaru. Kalau boleh dibilang, 2020 itu tahun yang paling berat. termasuk untuk saya sendiri. Setelah heboh dengan Covid di Indonesia, saya sebenarnya merasakan manfaat dari itu. Saat sakit di Masa Pandemi, saya nggak perlu kasih alasan ini itu ke teman-teman yang ngajakin keluar, saya bisa simpan rasa sakit saya sendiri di rumah. Penyembuhan juga semakin lebih efektif karena ditemani ibu. Ibu yang selalu jagain dan Ayah yang selalu nemenin. Di akhir tahun 2020, I got My first job as an intership Architect di FCS Architect Studio, Sempat down sekali waktu itu, karena merasa tertinggal jauh dari teman-teman. Melihat teman-teman yang udah pada kerja, atau udah lanjut kuliah lagi, dan saya masih gini-gini aja. Yang paling teringat di benak saya itu, Saya anak pertama, ada dua adik saya di bawah, bagai...

Coba Fikir Kembali

Pagi ini terapi akupunktur untuk yang kesekian kali. Sembari di aku-pressure sama Bu Dokter, Bu Dokter cerita. "Ada pasien saya, dia itu pinginnya abis minum obat sekali dua kali, langsung sembuh gitu. Kan nggak bisa ya. Kasian beliau, udah nyobain berobat kesana kemari, tapi ya gitu maunya hasilnya instan. Saya sampaikan aja, kalau mau yang langsung ada pengaruh nya ke Rumah Sakit aja. Kalau pakai terapi herbal begini memang lama." Saya menyimak penyampaian Bu Dokter, iya sih, saya paham keinginan ibu itu. I feel what she feel. "Kita itu kan sebenarnya sembuh itu dari diri kita sendiri. Kita harus bisa ' deal ' dengan keadaan. As long as we don't deal with ourself , sembuh itu makin jauh. Kita harus ikhlas dulu, harus berdamai dulu dengan keadaan. Baru setelah itu kita bisa tenang. Tubuh kita itu bisa memproduksi analgetik sendiri, yang dapat mengurangi rasa sakit. Jadi kita harus tenang dulu." Kata-kata Bu Dokter menusuk saya satu kali. Saya sadar bahw...

Beruntung

Sebenarnya karna ujian sakit ini, saya banyak dilatih bersabar, walau bersabarnya baru akhir akhir ini aja, dan walau bersabarnya dan ikhlasnya belum maksimal, setidaknya melatih sedikit jiwa ketawakkalan saya yang sudah terkubur lama. Waktu itu, saya mencuri dengar dari Ayah kalau teman beliau baru saja ditinggal untuk selamanya di dunia oleh putra tercinta. Ternyata putra beliau juga sakit saat diperantauan. Dan akhirnya tidak bisa diselamatkan. Saya akhirnya berpikir, waktu itu saya juga sakit pertama kali saat di Malang, di tanah rantau, jauh dari ayah dan ibu. Andai kata Allah ambil saya saat itu, entah bagaimana orangtua dan adik-adik saya.  Rasanya masih kurang bersyukur tetap Allah beri umur dan sakit untuk menghapus dosa-dosa. Kemarin, adik seorang teman juga baru saja Allah panggil. Saat itu dia tengah di kota Malang, dan adik beliau ada di sebrang pulau, di pulau Sulawesi.  Ini juga jadi bahan evaluasi bagi saya. Allah masih sebaik itu untuk memberi saya umur dan sa...

Insiden Subuh

Jadi, Subuh itu saya dibangunin sholat subuh, setelah kemarin diterapi akupuntur lagi, paginya badan masih ga enak, soalnya sebelum diterapi otot-otot diurai sama dokternya, biar bisa jalan dengan normal lagi. Akhirnya sholat Subuh lah saya berjamaah dengan ayah dan ibu, tapi di tengah bacaan alfatihah di rakaat pertama, rasanya kepala saya pusing, sesak juga di dada. Kalau merem kayak ada sensasi "cekiiit" gitu. Kayak orang demam, tapi saya sadar badan saya nggak panas. Tanda-tanda itu sama persis kalau saya mau muntah. Tapi akhirnya saya putusin buat nahan. Sampai sholat juga nggak khusu'. Waktu ayah mau bilang "Allahuakbar" menuju rukuk, akhirnya saya tumbang. Saya juga ga kepikiran bisa jatuh begitu, ayah sama ibu langsung berhenti sholat dan menghampiri saya. Nggak ada yang saya rasain, kayak mati rasa, nggak bisa mikir lagi. Ayah mengusap-usap kepala saya, sambil bilang "kenapa kak? Kenapa?" Ibu langsung ke dapur buat ambilin air putih hangat. Ay...

Menikah

Tentang  banyaknya undangan pernikahan yang saya terima kurang dari tiga bulan ini, menyadarkan saya bahwa saya sudah setua itu untuk terus memikirkan diri sendiri. Bukan tentang rasa iri karena yang lain sudah berpasangan, toh Rezki, jodoh, dan maut itu adalah hal pasti, yang masih jadi abu abu, hanya perihal surga dan neraka. Satu persatu teman teman mulai menyebar undangan, mulai pasang foto dengan cincin di jari manis sebelah kiri yang menandakan akan segera juga melepas status single. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya jadi mulai sadar dengan umur. Dua puluh satu menuju dua puluh dua adalah angka yang fantastis ternyata, saya sudah melewati dua dekade lebih dalam hidup. Tapi urusan yang serius seperti menikah masih belum bisa tertanam kokoh di hati, masih dikalahkan bahwa saya harus lulus sekolah, untuk saya, untuk tanggung jawab saya, dan untuk orang tua saya. Dan buat teman teman yang sudah berjalan bersama gandengan untuk meraih Jannah bersama, Barakallah, semoga ...

Sahabat Itu...

Ini menurut saya jadi hal yang nggak akan saya lupa di seumur hidup saya. Kita deket banget, dari kita MABA, dan sampe di semester 7 perkuliahan (saat saya menulis ini) saya tahu, sahabat saya itu bagaimana semangat hijrah nya. Selalu ngajarin saya tentang kebaikan. Memberi solusi dalam banyak masalah. I think selama hampir 3,5 tahun itu kita nggak pernah punya masalah yang berarti. Saya juga bukan tipikal yang beperan dan pekaan, jadi hampir nggak pernah menganggap sesuatu itu adalah hal yang sepenting itu. 26 November waktu itu, pertama kalinya saya merasa kita berdua punya hubungan yang renggang banget. Awalnya saya pikir itu cuma untuk sementara, mungkin mau PMS. Kita nggak pernah lagi saling berbagi cerita, dia nggak pernah lagi menghampiri kamar saya, dan saya sesungkan itu buat ngajakin ngomong seperti biasa, karna nanti moodnya semakin rusak. Sesederhana itu bagi saya, dan itu berlangsung lama sampai di Jumat di minggu yang sama. Malam itu saya ada janji untuk rapat kepenguru...

Menyepi dalam Ruang Rindu

Aruna menatap sendu pada sungai yang mengalir, memberi nuansa hidup pada hidupnya yang sunyi. 35 tahun setelah kematian suaminya, meninggalkan dirinya seorang diri tanpa anak. Tak hanya meninggalkan jejak rindu kebersamaan, tapi juga harta yang bergelimang. Tak hanya menyisakan kenangan indah, tapi juga kesunyian yang berjalan. Dialihkannya tatapannya pada makanan di meja kayu jati yang sewarna dengan gula jawa, dipikirnya kembali. 500 ribu untuk satu mangkuk mie dan seafood serta segelas smoothies mangga. Duduk sendiri, disuguhi cahaya lilin, menikmati tenggelamnya matahari yang seolah hanya angin lalu. Aruna semakin waktu semakin menyadari kesendiriannya, sudah cukup banyak krim anti aging yg dia habiskan tetap tak mampu menutupi kerut di tiap inci kulit mulusnya, dirinya semakin sadar sudah berapa lama dia habiskan dalam kesunyian, menjadi aktris panggung sandiwara dunia, memakai topeng dalam tiap jengkal langkahnya, dan membentuk senyum hanya demi awet muda. Ah, terlalu larut d...

Eyang Wiwiek feat. Mother Wearers

Eyang Wiwiek feat. Mother Wearers 7 Oktober lalu, saya dan salah seorang rekan sedang berburu buku-buku diskon 87%, wah the meaning of heaven itu ya bazaar buku yang murahnya pakai banget. Bukunya buku baru, terus kertasnya juga bukan koran, jadi otomatis itu bukan buku bajakan. Harga paling murah yang saya beli itu 15k, dan yang paling mahal 20k, emang sengaja cari yang murah tapi kualitas numero uno . Ada empat buku yang masuk kantong belanja saya, “Penjelasan Alamiah Ibadah Harian”, “The power of scince” “Alquran dan Yahudi”, serta “Penjelasan umum dalam beribadah.” Memang tidak berniat membeli novel sih , selain karna harga-harga novel lebih mahal, saya juga punya banyak novel di reading list yang masih menanti dibuka bungkusnya, jadi memang pure nambah wawasan sih ya, supaya hari menjelang detik-detik ujian terasa produktif. Tapi, sesuai judulnya, bukan masalah diskon buku inti tulisan ini, tapi mengenai Eyang Wiwiek. Jadi bazaar buku diadakan di T...

Poligami

Tiga Sahabat yang Bersepakat untuk Satu Suami Tigas Mahasiswa ini sepakat untuk menikah dengan satu suami. Bila ada yang terlebih dahulu dilamar, maka akan mengenalkan teman-temannya. ... "Suami saya buta, dan saya mencari madu untuk bersama sama meraih surga" Ah , Adinda hanya mematung di depan artikel yang baru saja diantar reporternya. Konten ini akan jadi highlight di Majalah edisi bulan ini. Hatinya agak mencelos membaca berita yang harus dia edit ini. Sebagai jomblo fi shabilillah , ah jomblo karena keenakan kerja sepertinya, Adinda bahkan belum terpikir mencari jodoh di seperempat abad usianya saat ini. Sedangkan fakta yang terkapar dihadapannya memberinya sedikit rasa malu. Untuk menyempurnakan agamanya saja dia masih belum mau, bagaimana dengan para wanita-wanita tangguh ini? Di sisi yang satu, mereka ingin menjadi teman se surga, sehingga ikhlas berbagi belahan jiwa. Di sisi yang lain, seorang wanita yang sudah sempurna agamanya juga ingin membantu saudaran...

Percuma!

"Mul, kok aku pesimis ya" "Yo Tiryo, kapan tho kamua ndak pesimis? Pesimis karna opo tho ?" "Pesimis sama negri tumpah darah Mul, ah ! Apalagi sebentar lagi ulang tahun" "Udahlah Yo, politisasi itu bukan buat orang-orang seperti kamu. Mending kamu pikir besok mau makan apa! Butuh duit banyak Yo untuk mengerti alur ini! Remah kuaci seperti kita, cuma bakal jadi penikmat!" " Lha , harusnya masalah kenegaraan terbuka untuk semua dong Mul! Mana hakikat demokrasi yang dijunjung tinggi itu?! Aku saja sepanjang hidup cuma kepikiran kalau-kalau digusur Satpol PP mau lanjut buka lapak dimana!" "Itu dia masalahmu Yo, suaramu saja kamu obral toh tiap peperangan paku! Gimana kamu mau peduli sama negri tumpah darah?" "Aku sadar Mul, aku bahkan hanya menyampah di ibu pertiwi. Aku digusur bulak-balik sama pemerintah yang katanya pro rakyat kecil!" "Makanya Yo, mulai sekarang fokusmu harus diganti!" "Diganti...

Tuhan!

Sambil duduk sembari menunggu senja menghiasi langit Bali sore itu, Tino menatap gapura kokoh yang mengapitn ya. Dwarapala yang mengawal gapura itu membuatnya tersenyum. Ah andai dia selalu dikawal seperti itu, mungkin hidupnya akan lebih baik. Saat sang senja sudah terlukis dia mulai berpikir, ah bergandengan mesra dengan background senja pasti akan indah. Ah ! Kenapa berpikir gandengan.? Memahami Tuhan saja ia masih enggan. Apalagi memikirkan yang lain. Sambil melempar arah pandangan ke lautan luas, dia semakin berpikir untuk melupakan Tuhan. Jiwanya takut, takut mengetahui Tuhan Maha Pengampun, dan dirinya masih enggan meminta ampun. Tuhan Maha Pemaaf, tapi dia masih enggan untuk merasa membutuhkan maaf. Dibaringkannya tubuh ringkihnya di atas pasir pantai yang kasar. Ditutupnya matanya dengan pergelangan tangan, diresapinya selama 82 tahun ini, apa saja yang sudah dilakukannya. Diresapinya dirinya yang berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Namun apa yang sudah dibe...

Dia

Dia menghapus sisa-sisa air yang menetes dari mulutnya. Vodka memang cukup nikmat untuk tengah malam dingin seperti ini. Mengamati sekitarnya, dia melangkah menuju lantai atas club hingar bingar yang dipandu DJ kenamaan itu. Kanan kirinya penuh orang mabuk. Siapa yang peduli, mereka butuh senang untuk rehat dari hidup yang mereka pikir kacau. Mengusap senapan keluaran Amerika itu, dia mulai mencari mangsanya. Setelah menemukan titiknya, seorang paruh baya yang menikmati minum sendiri di ruang VIP tertutup. Memang kesempatan tak akan datang dua kali. Diayunnya pasti lengannya dengan senapan itu menuju sang pria. Tanpa suara ledakan, peluru itu berhasil menyentuh tepat di jantung. Tak ada yabg dapat menolong, pria tua itu sedang menyendiri. Dengan tenang sang pria senapan mulai turun dan berjalan melalui pintu keluar dengan bahagia. Dia tinggal menunggu uang datang di rekeningnya yang entah keberapa. Melewati tengah kota, dia yang selalu tertutup masker hitam mulai menyeringai ke ara...

Ariniku!

22 September 2018 Aku cukup terkesima dengan wanita di depanku. Ya, pagi tadi dia sudah ada di depan apartemen studio yang kusewa kurang lebih dua tahun terakhir. Ah ! Arini selalu terlihat cantik dengan pakaian apapun, bahkan saat dia terlihat lebih kurus dan pucat seperti saat ini pun, dia tetap menawan. Senyumku tak berhenti mekar saat dia menyajikan masakannya untukku. Calon istri idaman memang. Kami mulai menyusuri satu demi satu varian kera-dan sebangsanya, tersenyum sambil merangkul mesra. Ah , bahkan kami menjadi tontonan gratis pengunjung lain. Aku agak malu sebenarnya, tapi kata Arini, toh tak ada yang mengenal kami. Hari-hari terus terlewati. Tak ku sangka sudah dua minggu Arini menemaniku. Ini sudah saatnya aku kembali ke rumah seperti jadwal biasa. Setiap libur semester, aku akan kembali ke Jakarta menemui keluargaku. Heran sejujurnya, Arini tak pernah mau aku ajak ke Singapore menemaniku. Aku bahkan pernah menawarkan pernikahan padanya, tapi dia bilang dia menungguku...

Rasa

Setelah semuanya, sekarang benar-benar akhir dari perjuanganku. Kedekatan yang terjalin selama empat tahun terakhir meninggalkan kenangan yang indah dalam hatiku. Dinginnya kota Batu fajar itu tidak semeremukkan rusuk seperti sakitnya hati ini. Besok adalah hari bahagia pria itu. Ya, kedekatan kami setelah dia membantuku di masa orientasi kala itu hanya angin lalu baginya. "Kamu saudaraku yang paling terbaik." Ah ! Salahkah aku menuntut lebih. Aku tau ini salah, hatiku terpaut pada yang bukan miliknya. Wanita yang dijumpainya satu bulan lalu di kajian ustadz kondang itu sudah dia lamar. Lantunan " sah " akan menggema besok. Sambil memandangi embun yang menempel di jendela bus, aku mulai merenung. Harusnya aku tidak kabur, harusnya aku melihatnya untuk terakhir kali, tapi apakah hatiku mampu? "Lho, Saiful! Ternyata ente toh?" Panggilan dari sebrang kursi itu membuat hatiku semakin hancur. Umara Hasmarani Rizqiyah Malang, 25 Juli 2018 (06.56)

NAK, MAIN KE RUMAH IBU YA, AJAKIN ADEKNYA BIAR NANTI MAU KULIAH JUGA

Surabaya siang itu panas banget memang, dari pagi saya dan salah seorang rekan sudah berangkat dari Malang pakai bus ekonomi seharga lima belas ribuan dalam satu kali perjalanan. Rencana awal kita, ke Serviced Office , terus berburu buku murah di Kampung Ilmu. Tapi ya apa daya? Saat ke kantornya saya ditolak untuk bisa survey, ya mau bagaimana lagi? Hari juga udah terik banget, azdan Dzuhur sudah sahut-bersahutan dari satu masjid dan masjid lainnya. Akhirnya kita putuskan buat lanjutin perjalanan ke Kampung Ilmu. FYI , Kampung Ilmu itu sejenis pasar buku murah yang ada di Surabaya, ya kalau di Malang sih kayak Wilis. Bukunya ya rata-rata diprint pakai kertas koran, kalau di Toko Buku ber-AC mungkin 80 ribuan, disini bahkan bisa ditawar jadi 15 ribu, ya namanya juga bajakan. Perjalanan dari Serviced Office ke Kampung Ilmu sekitar 20 menit-an lah , kita pakai Grab buat kesana. Alhamdulillah dapet driver yang ramah. Disini kita diajakin diskusi tentang Indonesia sama bapaknya, t...