Langsung ke konten utama

Insiden Subuh

Jadi, Subuh itu saya dibangunin sholat subuh, setelah kemarin diterapi akupuntur lagi, paginya badan masih ga enak, soalnya sebelum diterapi otot-otot diurai sama dokternya, biar bisa jalan dengan normal lagi.
Akhirnya sholat Subuh lah saya berjamaah dengan ayah dan ibu, tapi di tengah bacaan alfatihah di rakaat pertama, rasanya kepala saya pusing, sesak juga di dada. Kalau merem kayak ada sensasi "cekiiit" gitu. Kayak orang demam, tapi saya sadar badan saya nggak panas. Tanda-tanda itu sama persis kalau saya mau muntah.
Tapi akhirnya saya putusin buat nahan. Sampai sholat juga nggak khusu'. Waktu ayah mau bilang "Allahuakbar" menuju rukuk, akhirnya saya tumbang.
Saya juga ga kepikiran bisa jatuh begitu, ayah sama ibu langsung berhenti sholat dan menghampiri saya.
Nggak ada yang saya rasain, kayak mati rasa, nggak bisa mikir lagi.
Ayah mengusap-usap kepala saya, sambil bilang "kenapa kak? Kenapa?" Ibu langsung ke dapur buat ambilin air putih hangat.
Ayah memapah saya ke sofa, mukenah saya dibantu bukain.
Ibu datang nyodorin air putih hangat, terus balik lagi ke dapur buat bikin teh manis panas .
Kemarin memang karena terapi, jam makan siang mundur sekitar dua jam. Memang setelah sakit, saya benar-benar harus menjaga pola makan.
Dalam dua bulan terakhir saya juga sama sekali belum ada mengonsumsi gula. Hanya madu, itu pun baru berapa hari terakhir. Jadi karna Kurang asupan glukosa, juga mungkin jadi pemicu nya.
Tapi yang ingin saya share adalah, bagaimana care-nya ayah dan ibu saya. Saya terharu sekali, kepala diusap-usap ayah, ibu bantu balurin minyak kayu putih ke seluruh badan, dan ayah sama ibu sampai nunda Sholat😭😭.
Jujur dari lubuk hati yang terdalam saya benar-benar sudah lelah dengan rangkaian treatment untuk kesehatan. Udah hampir satu tahun, dan hasil yang ditunjukkan masih belum terlalu signifikan.
Saya iri sama teman teman yang sudah mulai mengawali karir, tapi saya disini masih disibukkan dengan kondisi kesehatan yang naik turun.
Saya ingin sekali mengeluh capek, tapi melihat ayah dan ibu, yang ngelakuin apa aja demi kesembuhan saya, saya cuma bisa memendam dalam hati, dan berusaha berlapang dada menerima ujian Allah.
Kata ustadz Hanan Attaki, semakin berat ujian, semakin indah hasilnya. Kalau sudah Allah tunjukkan nanti hasilnya, ujian itu cuma bakal kayak serpihan debu, yg mudah aja dihapus.
Saya benar-benar ingin beraktivitas layaknya orang normal lagi, bisa naik tangga, turun tangga, melewati level lantai yang berbeda.
Bismillah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Arsitektur ambil Arsitektur Lanskap opposite atau liniear sih?

Hello... It's me agaiiinnn Umara Udah lama banget ga pernah apdet tulisan di blog, kali ini pengen sharing karna ada beberapa orang yang lagi aktif nanya nih di DM instagram maupun WA. Saya mahasiswi S1 Arsitektur UIN Malang yang lulus tahun 2019, dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Arsitektur Lanskap IPB, banyak yang nanya, "Susah ngga sih masuk IPB?" "Arsitektur ambil Lanskap worth it ga sih ?" "Susah nggak kuliah di Lanskap?" Well, I will answer one by one . Pertama, masuk di IPB engga sesusah itu, engga ada tes tertulis ataupun tes wawancara,  tapi yang baru saya sadari di semester tiga ini, keluar dari IPB sulit cuuuy , wkwkwk sulitnya karna ada banyak banget yang harus diselesaikan buat ujian tesis. Kayak harus menghadiri seminar dari rumpun  ilmu lain, dan harus submit jurnal minimal SINTA2. Kedua, Arsitektur ambil Lanskap ilmu yang sejalan ga sih ? Well , ini agak bertolak belakang sebenernya , karna biarpun sama-sama Ars...

My really broken hearted

Hari ini I did the biggest thing for my heart. I'm going to 26 this year, and it's old alredy. When I was in JHS, I felt in love woth my friend, my school mate. We never in one class, I just loved when I saw him,  Time flies away, now, I still falling love with him. I mean, I really tried to open up my heart for another guy,  There are guy who try to cathing me, he texted me all day long, but the only person I think about marriege is just him, my JHS's mate. Today, I told my bestie about, how I can forget him, and I tried to confess to him. I didn't save his number, so I texed him in instagram. I asked, "kamu punya calon istri ga sih?" He said, "Wkwk, Alhamdulillah mar" It was broke my heart, it was really did. I really wanna cry, crying over and over, my long last crush, my forst love, going to get married. But, honestly, I need to Thanks to Allah, at least, I know how I'll be deal with my heart, I have to keep my heart for my future, I can keep...

Ngabuburit Sore ini

Hari ini, setelah telfon ayah tadi pagi, dikasih tau, kalau Dek Nuku mau kuliah di Jawa aja, Alhamdulillah, semua tempat menuntut ilmu itu baik, niat yang baik insyaaAllah diberkahi Allah. Sore itu, sekitar 35 menit sebelum Adzan Maghrib di Malang, saya menghubungi Nuku buat sekedar sharing , obrolan kami mulai berlanjut ke masalah teman-teman lama saya yang juga dia kenal. "Bang ini udah lahir lho kak, anaknya, kawan kakak waktu SD kan?" "Eh iya deh, Alhamdulillah kalau gitu" "Kakak yang itu juga Desember ini mau nikah kak" "Iya??? MasyaAllaaaah, tabarakallah" "Tulah, kakak aja yang belum" "Menurut Nuku kakak bagusnya kek mana?" "Kalau aku ya terserah kakak, tapi baiknya kakak cepat nikah aja" "Kenapa kayak gitu?" "Supaya tanggung jawab Ayah berkurang, kan kalau misalnya kakak keluar rumah ndak pake jilbab, Ayah juga yang dosa" "Iya sih, tapi kan kakak pake jilbab terus" ...