Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label islam

Ibu Rumah Tangga

Dinda menatap jasad Bu RT yang terbujur kaku di depannya. Tak kuasa dia menahan tangis melihat orang yang sudah seperti ibunya, seperti gurunya, seperti panutannya meninggalkannya di dunia lebih cepat. Bu RT adalah panutan hampir seluruh ibu ibu kampung. Seorang Ibu rumah tangga yang juga membuka usaha jual baju muslimah di ruko depan rumahnya. Sering memberi pelatihan kerajinan tangan kepada ibu ibu, dan memberi edukasi bagi para ibu untuk bertani di rumah. Bu RT sering ikut pelatihan di kota, dan semua pelatihan yang diikuti beliau, beliau ajarkan kembali kepada semua ibu-ibu. Sosok itu sudah nampak jelas garis keriput di hampir tiap inci tubuhnya, kedua anaknya yang sudah menikah baru kembali dari rumah masing masing, duduk bersama istri dan anak mereka di dekat almarhumah. Dinda kembali mengingat kata warga Bu RT baru aktif jualan, sosialisasi dan kesibukan lainnya setelah kedua anak beliau menuntut ilmu di kota, sehingga kekosongan hari beliau diisi untuk yang bermanfaat. Setela...

Sahabat Itu...

Ini menurut saya jadi hal yang nggak akan saya lupa di seumur hidup saya. Kita deket banget, dari kita MABA, dan sampe di semester 7 perkuliahan (saat saya menulis ini) saya tahu, sahabat saya itu bagaimana semangat hijrah nya. Selalu ngajarin saya tentang kebaikan. Memberi solusi dalam banyak masalah. I think selama hampir 3,5 tahun itu kita nggak pernah punya masalah yang berarti. Saya juga bukan tipikal yang beperan dan pekaan, jadi hampir nggak pernah menganggap sesuatu itu adalah hal yang sepenting itu. 26 November waktu itu, pertama kalinya saya merasa kita berdua punya hubungan yang renggang banget. Awalnya saya pikir itu cuma untuk sementara, mungkin mau PMS. Kita nggak pernah lagi saling berbagi cerita, dia nggak pernah lagi menghampiri kamar saya, dan saya sesungkan itu buat ngajakin ngomong seperti biasa, karna nanti moodnya semakin rusak. Sesederhana itu bagi saya, dan itu berlangsung lama sampai di Jumat di minggu yang sama. Malam itu saya ada janji untuk rapat kepenguru...

Menyepi dalam Ruang Rindu

Aruna menatap sendu pada sungai yang mengalir, memberi nuansa hidup pada hidupnya yang sunyi. 35 tahun setelah kematian suaminya, meninggalkan dirinya seorang diri tanpa anak. Tak hanya meninggalkan jejak rindu kebersamaan, tapi juga harta yang bergelimang. Tak hanya menyisakan kenangan indah, tapi juga kesunyian yang berjalan. Dialihkannya tatapannya pada makanan di meja kayu jati yang sewarna dengan gula jawa, dipikirnya kembali. 500 ribu untuk satu mangkuk mie dan seafood serta segelas smoothies mangga. Duduk sendiri, disuguhi cahaya lilin, menikmati tenggelamnya matahari yang seolah hanya angin lalu. Aruna semakin waktu semakin menyadari kesendiriannya, sudah cukup banyak krim anti aging yg dia habiskan tetap tak mampu menutupi kerut di tiap inci kulit mulusnya, dirinya semakin sadar sudah berapa lama dia habiskan dalam kesunyian, menjadi aktris panggung sandiwara dunia, memakai topeng dalam tiap jengkal langkahnya, dan membentuk senyum hanya demi awet muda. Ah, terlalu larut d...

Nikmat Allah itu..

Sebelumnya pasti udah banyak yang mendengar istilah, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) nikmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” Awalnya saya hanya menganggap, wah iya ya , nikmat mendengar, nikmat melihat, nikmat berjalan, nikmat bisa memegang, dan nikmat bisa makan, hal-hal besar seperti itu yang selalu saya pikirkan. Namun, beberapa hari yang lalu, saya mulai menyadari, nikmat itu terlalu luas kalau dikategorikan seperti itu. Beberapa hari lalu, saya pergi ke Bali bersama teman-teman, otomatis kita jalan-jalan. Ngunjungin beberapa karya arsitektur hebat di Bali, ngunjungin pantai, keliling kota, dan juga mengunjungi sebuah kampung terbersih disana. Saat perjalanan kita melewati area pegunungan, dan waktu itu kondisinya saya memang lagi pilek sih , jadi meler terus selama perjalanan. Saat sampai ...

NAK, MAIN KE RUMAH IBU YA, AJAKIN ADEKNYA BIAR NANTI MAU KULIAH JUGA

Surabaya siang itu panas banget memang, dari pagi saya dan salah seorang rekan sudah berangkat dari Malang pakai bus ekonomi seharga lima belas ribuan dalam satu kali perjalanan. Rencana awal kita, ke Serviced Office , terus berburu buku murah di Kampung Ilmu. Tapi ya apa daya? Saat ke kantornya saya ditolak untuk bisa survey, ya mau bagaimana lagi? Hari juga udah terik banget, azdan Dzuhur sudah sahut-bersahutan dari satu masjid dan masjid lainnya. Akhirnya kita putuskan buat lanjutin perjalanan ke Kampung Ilmu. FYI , Kampung Ilmu itu sejenis pasar buku murah yang ada di Surabaya, ya kalau di Malang sih kayak Wilis. Bukunya ya rata-rata diprint pakai kertas koran, kalau di Toko Buku ber-AC mungkin 80 ribuan, disini bahkan bisa ditawar jadi 15 ribu, ya namanya juga bajakan. Perjalanan dari Serviced Office ke Kampung Ilmu sekitar 20 menit-an lah , kita pakai Grab buat kesana. Alhamdulillah dapet driver yang ramah. Disini kita diajakin diskusi tentang Indonesia sama bapaknya, t...

Motor Tua Punya Bapak

Sore itu, rumah sudah mulai sepi, para warga yang tadi ikut mengantar Bapak ke tempat terakhir menuju Tuhannya mulai kembali ke rumah masing-masing. Aku masih terpaku di depan rumah, duduk di kursi goyang reot yang selalu digunakan bapak sambil minum teh atau sekedar bermain dengan cucu-cucunya. Dari sisi ini nampak motor butut Bapak yang sudah menemani almarhum lebih dari 40 tahun. Bapak bilang, sebelum mampu membeli mobil, dulu motor tua itu yang mengantar Bapak ke kantor, menemani Ibu berbelanja, dan juga mengantar aku pulang pergi sekolah. Masih terngiang, saat duduk di bangku SMA, bapak mulai bisa membeli mobil, karena adik adikku juga sudah besar. Dua motor sebelumnya bapak jual untuk menutup dana mobil, tapi bapak kekeh untuk mempertahankan motor tuanya. "Biarlah, itu bapak pakai ke majid saja." Itu kata Bapak. Lagian siapa yang akan membeli motor tua seperti itu, harganya juga pasti rendah, pikirku. Tampak warna merahnya mulai memudar, bercampur dengan sedikit putih...

Jangan Suudzon dong Mbak!!

Kali ini masih tentang pengalaman yang mungkin aja banyak yang bilang, elah receh deh , itu aja diceritain. But, I just can’t handle mine buat nggak menyalurkan ini. Jadi, tanggal 24 kemarin saya dan salah seorang teman datang ikut kajiannya ustadz Abdul Somad. Kita berangkat dari jam 15.30, sampai di masjid Jagalan (lokasi kajian) udah rame banget, kita juga parkir motornya jadi jauh, dan jadilah kita dapat tempat duduk di teras masjid di lantai dua. Jadi disini sempit-sempitan banget. Yang di dalam masjid sama panitia diatur serapi mungkin supaya nanti sholatnya gampang. Beda sama yang dapet duduk di teras, of course nggak semuanya sholat. Jadi setelah dapat tempat duduk langsung masstiian pas buat sholat. Udah ancang-ancang mau letakin sutroh nantinya. Setelah berapa puluh menit, masjid jadi makin ramai, panitia juga udah membatasi jamaah yang baru dating supaya nggak usah naik lantai dua. Eh tiba tiba tempat yang udah kita jaga buat sholat nanti dijadiin tempat ...

Praktik kerja lapangan, Onino Architecture Studio

Another nih, Mungkin kalau judulnya bukan di atas, banyak yang nggak tertarik kali ya ? Haha Jadi, saya sedang Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Onino Architecture Studio. Lokasinya ada di Griya Shnata D-337, di Sukarno Hatta, Kota Malang. Lokasinya strategis banget kalau boleh jujur. Di tengah kota, deket Indomaret, deket Togamas, dan yang pasti, cuma beberapa langkah saja untuk ke Masjid. Masjid Al-Ghifary, jadi di sana ada Khuttabah gitu, satu level sama SD. SD Islam, jadi sekolah ada dalam lingkungan masjid. Saat istirahata Zuhur, saya dan semua rekan akan sholat Zuhur disina, dan bisanya bersamaan dengan para siswa yang juga Sholat. Sekolahnya Islam terpadu, saya jadi flashback ke masa-masa SD , haha , disana mereka kayaknya banyak kegiatan, dan mereka juga nggak selalu pakai seragam sekolah, mungkin supaya anak-anak pada terbiasa untuk menggunakan pakaian muslim. Sebagian besar mereka ada yang menggunakan cadar. Bila ditinjau dari masa sekarang, betapa banyak or...