Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Istri Rumah Tangga

Dahlia menatap nanar ditumpukan baju yang harus dia setrika. Sambil menghela napas lelah, dia kembali ingat dua bulan lalu, dua hari setelah wisuda ayahnya ternyata sudah menerima seorang pria yang datang melamarnya sejak sebelum dia sidang akhir. Dan kemudian, sekarang statusnya sudah menjadi istri seorang pegawai BUMN. Setelah menikah ayah dan ibunya sepakat bahwa dia tak boleh satu rumah lagi dengan orangtuanya, harus belajar jadi istri Sholeha kata ayah. Karena baru dapat ijazah, dia belum kirim satu CV pun, disinilah dia. Membersihkan rumah tiap harinya. Hari ketiga menjadi istri, dia mulai bisa masak nasi goreng walau kadang keasinan. Kadang kebanyakan minyak, atau kadang nasi yang dia masak terlalu lunak. Kalau dulu semua kebutuhannya terpenuhi, dia hanya tinggal belajar saja, kalau sekarang, rumahnya bahkan hanya tipe 45, tapi susah sekali rasanya untuk bersih. Tepat setelah satu bulan jadi istri, dia merasa jadi wanita multitalenta. Masak sambil liatin cucian, masak nasi ...

Ibu Rumah Tangga

Dinda menatap jasad Bu RT yang terbujur kaku di depannya. Tak kuasa dia menahan tangis melihat orang yang sudah seperti ibunya, seperti gurunya, seperti panutannya meninggalkannya di dunia lebih cepat. Bu RT adalah panutan hampir seluruh ibu ibu kampung. Seorang Ibu rumah tangga yang juga membuka usaha jual baju muslimah di ruko depan rumahnya. Sering memberi pelatihan kerajinan tangan kepada ibu ibu, dan memberi edukasi bagi para ibu untuk bertani di rumah. Bu RT sering ikut pelatihan di kota, dan semua pelatihan yang diikuti beliau, beliau ajarkan kembali kepada semua ibu-ibu. Sosok itu sudah nampak jelas garis keriput di hampir tiap inci tubuhnya, kedua anaknya yang sudah menikah baru kembali dari rumah masing masing, duduk bersama istri dan anak mereka di dekat almarhumah. Dinda kembali mengingat kata warga Bu RT baru aktif jualan, sosialisasi dan kesibukan lainnya setelah kedua anak beliau menuntut ilmu di kota, sehingga kekosongan hari beliau diisi untuk yang bermanfaat. Setela...

Menyepi dalam Ruang Rindu

Aruna menatap sendu pada sungai yang mengalir, memberi nuansa hidup pada hidupnya yang sunyi. 35 tahun setelah kematian suaminya, meninggalkan dirinya seorang diri tanpa anak. Tak hanya meninggalkan jejak rindu kebersamaan, tapi juga harta yang bergelimang. Tak hanya menyisakan kenangan indah, tapi juga kesunyian yang berjalan. Dialihkannya tatapannya pada makanan di meja kayu jati yang sewarna dengan gula jawa, dipikirnya kembali. 500 ribu untuk satu mangkuk mie dan seafood serta segelas smoothies mangga. Duduk sendiri, disuguhi cahaya lilin, menikmati tenggelamnya matahari yang seolah hanya angin lalu. Aruna semakin waktu semakin menyadari kesendiriannya, sudah cukup banyak krim anti aging yg dia habiskan tetap tak mampu menutupi kerut di tiap inci kulit mulusnya, dirinya semakin sadar sudah berapa lama dia habiskan dalam kesunyian, menjadi aktris panggung sandiwara dunia, memakai topeng dalam tiap jengkal langkahnya, dan membentuk senyum hanya demi awet muda. Ah, terlalu larut d...

Percuma!

"Mul, kok aku pesimis ya" "Yo Tiryo, kapan tho kamua ndak pesimis? Pesimis karna opo tho ?" "Pesimis sama negri tumpah darah Mul, ah ! Apalagi sebentar lagi ulang tahun" "Udahlah Yo, politisasi itu bukan buat orang-orang seperti kamu. Mending kamu pikir besok mau makan apa! Butuh duit banyak Yo untuk mengerti alur ini! Remah kuaci seperti kita, cuma bakal jadi penikmat!" " Lha , harusnya masalah kenegaraan terbuka untuk semua dong Mul! Mana hakikat demokrasi yang dijunjung tinggi itu?! Aku saja sepanjang hidup cuma kepikiran kalau-kalau digusur Satpol PP mau lanjut buka lapak dimana!" "Itu dia masalahmu Yo, suaramu saja kamu obral toh tiap peperangan paku! Gimana kamu mau peduli sama negri tumpah darah?" "Aku sadar Mul, aku bahkan hanya menyampah di ibu pertiwi. Aku digusur bulak-balik sama pemerintah yang katanya pro rakyat kecil!" "Makanya Yo, mulai sekarang fokusmu harus diganti!" "Diganti...

Tuhan!

Sambil duduk sembari menunggu senja menghiasi langit Bali sore itu, Tino menatap gapura kokoh yang mengapitn ya. Dwarapala yang mengawal gapura itu membuatnya tersenyum. Ah andai dia selalu dikawal seperti itu, mungkin hidupnya akan lebih baik. Saat sang senja sudah terlukis dia mulai berpikir, ah bergandengan mesra dengan background senja pasti akan indah. Ah ! Kenapa berpikir gandengan.? Memahami Tuhan saja ia masih enggan. Apalagi memikirkan yang lain. Sambil melempar arah pandangan ke lautan luas, dia semakin berpikir untuk melupakan Tuhan. Jiwanya takut, takut mengetahui Tuhan Maha Pengampun, dan dirinya masih enggan meminta ampun. Tuhan Maha Pemaaf, tapi dia masih enggan untuk merasa membutuhkan maaf. Dibaringkannya tubuh ringkihnya di atas pasir pantai yang kasar. Ditutupnya matanya dengan pergelangan tangan, diresapinya selama 82 tahun ini, apa saja yang sudah dilakukannya. Diresapinya dirinya yang berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Namun apa yang sudah dibe...

Dia

Dia menghapus sisa-sisa air yang menetes dari mulutnya. Vodka memang cukup nikmat untuk tengah malam dingin seperti ini. Mengamati sekitarnya, dia melangkah menuju lantai atas club hingar bingar yang dipandu DJ kenamaan itu. Kanan kirinya penuh orang mabuk. Siapa yang peduli, mereka butuh senang untuk rehat dari hidup yang mereka pikir kacau. Mengusap senapan keluaran Amerika itu, dia mulai mencari mangsanya. Setelah menemukan titiknya, seorang paruh baya yang menikmati minum sendiri di ruang VIP tertutup. Memang kesempatan tak akan datang dua kali. Diayunnya pasti lengannya dengan senapan itu menuju sang pria. Tanpa suara ledakan, peluru itu berhasil menyentuh tepat di jantung. Tak ada yabg dapat menolong, pria tua itu sedang menyendiri. Dengan tenang sang pria senapan mulai turun dan berjalan melalui pintu keluar dengan bahagia. Dia tinggal menunggu uang datang di rekeningnya yang entah keberapa. Melewati tengah kota, dia yang selalu tertutup masker hitam mulai menyeringai ke ara...

Ariniku!

22 September 2018 Aku cukup terkesima dengan wanita di depanku. Ya, pagi tadi dia sudah ada di depan apartemen studio yang kusewa kurang lebih dua tahun terakhir. Ah ! Arini selalu terlihat cantik dengan pakaian apapun, bahkan saat dia terlihat lebih kurus dan pucat seperti saat ini pun, dia tetap menawan. Senyumku tak berhenti mekar saat dia menyajikan masakannya untukku. Calon istri idaman memang. Kami mulai menyusuri satu demi satu varian kera-dan sebangsanya, tersenyum sambil merangkul mesra. Ah , bahkan kami menjadi tontonan gratis pengunjung lain. Aku agak malu sebenarnya, tapi kata Arini, toh tak ada yang mengenal kami. Hari-hari terus terlewati. Tak ku sangka sudah dua minggu Arini menemaniku. Ini sudah saatnya aku kembali ke rumah seperti jadwal biasa. Setiap libur semester, aku akan kembali ke Jakarta menemui keluargaku. Heran sejujurnya, Arini tak pernah mau aku ajak ke Singapore menemaniku. Aku bahkan pernah menawarkan pernikahan padanya, tapi dia bilang dia menungguku...

Motor Tua Punya Bapak

Sore itu, rumah sudah mulai sepi, para warga yang tadi ikut mengantar Bapak ke tempat terakhir menuju Tuhannya mulai kembali ke rumah masing-masing. Aku masih terpaku di depan rumah, duduk di kursi goyang reot yang selalu digunakan bapak sambil minum teh atau sekedar bermain dengan cucu-cucunya. Dari sisi ini nampak motor butut Bapak yang sudah menemani almarhum lebih dari 40 tahun. Bapak bilang, sebelum mampu membeli mobil, dulu motor tua itu yang mengantar Bapak ke kantor, menemani Ibu berbelanja, dan juga mengantar aku pulang pergi sekolah. Masih terngiang, saat duduk di bangku SMA, bapak mulai bisa membeli mobil, karena adik adikku juga sudah besar. Dua motor sebelumnya bapak jual untuk menutup dana mobil, tapi bapak kekeh untuk mempertahankan motor tuanya. "Biarlah, itu bapak pakai ke majid saja." Itu kata Bapak. Lagian siapa yang akan membeli motor tua seperti itu, harganya juga pasti rendah, pikirku. Tampak warna merahnya mulai memudar, bercampur dengan sedikit putih...