Langsung ke konten utama

Postingan

Manusia dan Dosa

The power of , seolah manusia itu tak ada salah. Dosa kecil dianggap tidak dosa, dan dosa besar dianggap biasa, sehingga puing-puing berkah yang Allah beri tak lagi tertanam dalam hati. Melihat Lombok, lalu Palu, Donggala, Sigi, kemudian pesawat Lion, Innalillahi wainnailaihi rojiuun,, semuanya pasti akan kembali pada Allah. Apabila tanda-tanda akjir zaman muncul saat zaman para sahabat, maka mereka pasti akan menangis tersedu, tapi siapa kita? Tak mau menerima teguran dari Allah, merasa tak punya salah dan tak ada yang harus ditegur. Kita siapa? Merasa masih bebas menikmati hiruk-pikuk dunia, masih merasa ada banyak waktu untuk menuangkan nafsu, seolah masih ada banyak waktu untuk bertaubat. Dalam banyak hal, kadang saya berpikir, dunia dan akhirat memang hal linier. Dunia itu jembatan menuju tempat yang kekal, menuju tempat pertanggung jawaban, dan tempat balasan. Harta, tahta, bahkan keluarga semua Allah titipkan, ilmu, juga Allah titipkan. Hanya kita yang menentukan, mau d...

Eyang Wiwiek feat. Mother Wearers

Eyang Wiwiek feat. Mother Wearers 7 Oktober lalu, saya dan salah seorang rekan sedang berburu buku-buku diskon 87%, wah the meaning of heaven itu ya bazaar buku yang murahnya pakai banget. Bukunya buku baru, terus kertasnya juga bukan koran, jadi otomatis itu bukan buku bajakan. Harga paling murah yang saya beli itu 15k, dan yang paling mahal 20k, emang sengaja cari yang murah tapi kualitas numero uno . Ada empat buku yang masuk kantong belanja saya, “Penjelasan Alamiah Ibadah Harian”, “The power of scince” “Alquran dan Yahudi”, serta “Penjelasan umum dalam beribadah.” Memang tidak berniat membeli novel sih , selain karna harga-harga novel lebih mahal, saya juga punya banyak novel di reading list yang masih menanti dibuka bungkusnya, jadi memang pure nambah wawasan sih ya, supaya hari menjelang detik-detik ujian terasa produktif. Tapi, sesuai judulnya, bukan masalah diskon buku inti tulisan ini, tapi mengenai Eyang Wiwiek. Jadi bazaar buku diadakan di T...

Poligami

Tiga Sahabat yang Bersepakat untuk Satu Suami Tigas Mahasiswa ini sepakat untuk menikah dengan satu suami. Bila ada yang terlebih dahulu dilamar, maka akan mengenalkan teman-temannya. ... "Suami saya buta, dan saya mencari madu untuk bersama sama meraih surga" Ah , Adinda hanya mematung di depan artikel yang baru saja diantar reporternya. Konten ini akan jadi highlight di Majalah edisi bulan ini. Hatinya agak mencelos membaca berita yang harus dia edit ini. Sebagai jomblo fi shabilillah , ah jomblo karena keenakan kerja sepertinya, Adinda bahkan belum terpikir mencari jodoh di seperempat abad usianya saat ini. Sedangkan fakta yang terkapar dihadapannya memberinya sedikit rasa malu. Untuk menyempurnakan agamanya saja dia masih belum mau, bagaimana dengan para wanita-wanita tangguh ini? Di sisi yang satu, mereka ingin menjadi teman se surga, sehingga ikhlas berbagi belahan jiwa. Di sisi yang lain, seorang wanita yang sudah sempurna agamanya juga ingin membantu saudaran...

Tips Trick Memulai Biro Arsitek oleh Pak Andi Rahman

Sebagai mahasiswa, ada banyak kondisi yang bikin bingung, what should I do if I'm not a student anymore? That's why Pak Andi Rahman, sebagai Principal Architect segaligus owner Andi Rahman Arsitek, mulai membagi pengalaman beliau dalam memulai sebuah biro. Sebagai orang yang memulai bisnis secara otodidak, beliau memberi tips and trick buat kita sebagai mahasiswa yang ingin memulai biro. 1. Lewat media sosial 2. Biarkan karya jadi marketing 3. Jangan pasang murah 4. Kerjakan dengan hati, untuk portofolio 5. Bikin blog untuk marketing dan publikasi 6. Lewati satu karya terbangun 7. Buat website 8. Butuh partner 9. Dokumentasi proses design 10. Website memberi cerita, denah, (dipakai mahasiswa dan orang awam) 11. Website with link social media Instagram You-tube FB Twitter 12. Website biar googling untuk jadi SEO 13. Bikin buku 14. Ikut pameran 15. Sayembara shortcut to great! 16. Tract record sayembara untuk mahasiswa untuk membuka pikiran kita. 1...

Percuma!

"Mul, kok aku pesimis ya" "Yo Tiryo, kapan tho kamua ndak pesimis? Pesimis karna opo tho ?" "Pesimis sama negri tumpah darah Mul, ah ! Apalagi sebentar lagi ulang tahun" "Udahlah Yo, politisasi itu bukan buat orang-orang seperti kamu. Mending kamu pikir besok mau makan apa! Butuh duit banyak Yo untuk mengerti alur ini! Remah kuaci seperti kita, cuma bakal jadi penikmat!" " Lha , harusnya masalah kenegaraan terbuka untuk semua dong Mul! Mana hakikat demokrasi yang dijunjung tinggi itu?! Aku saja sepanjang hidup cuma kepikiran kalau-kalau digusur Satpol PP mau lanjut buka lapak dimana!" "Itu dia masalahmu Yo, suaramu saja kamu obral toh tiap peperangan paku! Gimana kamu mau peduli sama negri tumpah darah?" "Aku sadar Mul, aku bahkan hanya menyampah di ibu pertiwi. Aku digusur bulak-balik sama pemerintah yang katanya pro rakyat kecil!" "Makanya Yo, mulai sekarang fokusmu harus diganti!" "Diganti...

Nikmat Allah itu..

Sebelumnya pasti udah banyak yang mendengar istilah, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) nikmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” Awalnya saya hanya menganggap, wah iya ya , nikmat mendengar, nikmat melihat, nikmat berjalan, nikmat bisa memegang, dan nikmat bisa makan, hal-hal besar seperti itu yang selalu saya pikirkan. Namun, beberapa hari yang lalu, saya mulai menyadari, nikmat itu terlalu luas kalau dikategorikan seperti itu. Beberapa hari lalu, saya pergi ke Bali bersama teman-teman, otomatis kita jalan-jalan. Ngunjungin beberapa karya arsitektur hebat di Bali, ngunjungin pantai, keliling kota, dan juga mengunjungi sebuah kampung terbersih disana. Saat perjalanan kita melewati area pegunungan, dan waktu itu kondisinya saya memang lagi pilek sih , jadi meler terus selama perjalanan. Saat sampai ...

Tuhan!

Sambil duduk sembari menunggu senja menghiasi langit Bali sore itu, Tino menatap gapura kokoh yang mengapitn ya. Dwarapala yang mengawal gapura itu membuatnya tersenyum. Ah andai dia selalu dikawal seperti itu, mungkin hidupnya akan lebih baik. Saat sang senja sudah terlukis dia mulai berpikir, ah bergandengan mesra dengan background senja pasti akan indah. Ah ! Kenapa berpikir gandengan.? Memahami Tuhan saja ia masih enggan. Apalagi memikirkan yang lain. Sambil melempar arah pandangan ke lautan luas, dia semakin berpikir untuk melupakan Tuhan. Jiwanya takut, takut mengetahui Tuhan Maha Pengampun, dan dirinya masih enggan meminta ampun. Tuhan Maha Pemaaf, tapi dia masih enggan untuk merasa membutuhkan maaf. Dibaringkannya tubuh ringkihnya di atas pasir pantai yang kasar. Ditutupnya matanya dengan pergelangan tangan, diresapinya selama 82 tahun ini, apa saja yang sudah dilakukannya. Diresapinya dirinya yang berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Namun apa yang sudah dibe...