Langsung ke konten utama

Postingan

Percuma!

"Mul, kok aku pesimis ya" "Yo Tiryo, kapan tho kamua ndak pesimis? Pesimis karna opo tho ?" "Pesimis sama negri tumpah darah Mul, ah ! Apalagi sebentar lagi ulang tahun" "Udahlah Yo, politisasi itu bukan buat orang-orang seperti kamu. Mending kamu pikir besok mau makan apa! Butuh duit banyak Yo untuk mengerti alur ini! Remah kuaci seperti kita, cuma bakal jadi penikmat!" " Lha , harusnya masalah kenegaraan terbuka untuk semua dong Mul! Mana hakikat demokrasi yang dijunjung tinggi itu?! Aku saja sepanjang hidup cuma kepikiran kalau-kalau digusur Satpol PP mau lanjut buka lapak dimana!" "Itu dia masalahmu Yo, suaramu saja kamu obral toh tiap peperangan paku! Gimana kamu mau peduli sama negri tumpah darah?" "Aku sadar Mul, aku bahkan hanya menyampah di ibu pertiwi. Aku digusur bulak-balik sama pemerintah yang katanya pro rakyat kecil!" "Makanya Yo, mulai sekarang fokusmu harus diganti!" "Diganti...

Nikmat Allah itu..

Sebelumnya pasti udah banyak yang mendengar istilah, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) nikmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” Awalnya saya hanya menganggap, wah iya ya , nikmat mendengar, nikmat melihat, nikmat berjalan, nikmat bisa memegang, dan nikmat bisa makan, hal-hal besar seperti itu yang selalu saya pikirkan. Namun, beberapa hari yang lalu, saya mulai menyadari, nikmat itu terlalu luas kalau dikategorikan seperti itu. Beberapa hari lalu, saya pergi ke Bali bersama teman-teman, otomatis kita jalan-jalan. Ngunjungin beberapa karya arsitektur hebat di Bali, ngunjungin pantai, keliling kota, dan juga mengunjungi sebuah kampung terbersih disana. Saat perjalanan kita melewati area pegunungan, dan waktu itu kondisinya saya memang lagi pilek sih , jadi meler terus selama perjalanan. Saat sampai ...

Tuhan!

Sambil duduk sembari menunggu senja menghiasi langit Bali sore itu, Tino menatap gapura kokoh yang mengapitn ya. Dwarapala yang mengawal gapura itu membuatnya tersenyum. Ah andai dia selalu dikawal seperti itu, mungkin hidupnya akan lebih baik. Saat sang senja sudah terlukis dia mulai berpikir, ah bergandengan mesra dengan background senja pasti akan indah. Ah ! Kenapa berpikir gandengan.? Memahami Tuhan saja ia masih enggan. Apalagi memikirkan yang lain. Sambil melempar arah pandangan ke lautan luas, dia semakin berpikir untuk melupakan Tuhan. Jiwanya takut, takut mengetahui Tuhan Maha Pengampun, dan dirinya masih enggan meminta ampun. Tuhan Maha Pemaaf, tapi dia masih enggan untuk merasa membutuhkan maaf. Dibaringkannya tubuh ringkihnya di atas pasir pantai yang kasar. Ditutupnya matanya dengan pergelangan tangan, diresapinya selama 82 tahun ini, apa saja yang sudah dilakukannya. Diresapinya dirinya yang berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Namun apa yang sudah dibe...

Dia

Dia menghapus sisa-sisa air yang menetes dari mulutnya. Vodka memang cukup nikmat untuk tengah malam dingin seperti ini. Mengamati sekitarnya, dia melangkah menuju lantai atas club hingar bingar yang dipandu DJ kenamaan itu. Kanan kirinya penuh orang mabuk. Siapa yang peduli, mereka butuh senang untuk rehat dari hidup yang mereka pikir kacau. Mengusap senapan keluaran Amerika itu, dia mulai mencari mangsanya. Setelah menemukan titiknya, seorang paruh baya yang menikmati minum sendiri di ruang VIP tertutup. Memang kesempatan tak akan datang dua kali. Diayunnya pasti lengannya dengan senapan itu menuju sang pria. Tanpa suara ledakan, peluru itu berhasil menyentuh tepat di jantung. Tak ada yabg dapat menolong, pria tua itu sedang menyendiri. Dengan tenang sang pria senapan mulai turun dan berjalan melalui pintu keluar dengan bahagia. Dia tinggal menunggu uang datang di rekeningnya yang entah keberapa. Melewati tengah kota, dia yang selalu tertutup masker hitam mulai menyeringai ke ara...

Ariniku!

22 September 2018 Aku cukup terkesima dengan wanita di depanku. Ya, pagi tadi dia sudah ada di depan apartemen studio yang kusewa kurang lebih dua tahun terakhir. Ah ! Arini selalu terlihat cantik dengan pakaian apapun, bahkan saat dia terlihat lebih kurus dan pucat seperti saat ini pun, dia tetap menawan. Senyumku tak berhenti mekar saat dia menyajikan masakannya untukku. Calon istri idaman memang. Kami mulai menyusuri satu demi satu varian kera-dan sebangsanya, tersenyum sambil merangkul mesra. Ah , bahkan kami menjadi tontonan gratis pengunjung lain. Aku agak malu sebenarnya, tapi kata Arini, toh tak ada yang mengenal kami. Hari-hari terus terlewati. Tak ku sangka sudah dua minggu Arini menemaniku. Ini sudah saatnya aku kembali ke rumah seperti jadwal biasa. Setiap libur semester, aku akan kembali ke Jakarta menemui keluargaku. Heran sejujurnya, Arini tak pernah mau aku ajak ke Singapore menemaniku. Aku bahkan pernah menawarkan pernikahan padanya, tapi dia bilang dia menungguku...

Masih Sama

Rasanya masih sama Masih sedalam itu Masih sejauh itu Dan masih sesakit itu Konfigurasi huruf ini masih meninggalkan kesan yang sama harunya Ah! Kau masih sama indahnya Entah harus berjalan berapa lama lagi untuk mengurangi rasanya Untuk memberi bumbu berbeda pada rasanya Hatiku masih kamu juga penjaganya Bila semua diksi puitis dimulai dari hancurnya hati Kenapa selalu aku yang rasa Kenapa selalu aku yang hancur Kenapa selalu aku yang sadar bahwa kamu juga selalu tak peduli Umara Hasmarani Rizqiyah Hasibuan Kota Dingin, 31 Juli 2018

Rasa

Setelah semuanya, sekarang benar-benar akhir dari perjuanganku. Kedekatan yang terjalin selama empat tahun terakhir meninggalkan kenangan yang indah dalam hatiku. Dinginnya kota Batu fajar itu tidak semeremukkan rusuk seperti sakitnya hati ini. Besok adalah hari bahagia pria itu. Ya, kedekatan kami setelah dia membantuku di masa orientasi kala itu hanya angin lalu baginya. "Kamu saudaraku yang paling terbaik." Ah ! Salahkah aku menuntut lebih. Aku tau ini salah, hatiku terpaut pada yang bukan miliknya. Wanita yang dijumpainya satu bulan lalu di kajian ustadz kondang itu sudah dia lamar. Lantunan " sah " akan menggema besok. Sambil memandangi embun yang menempel di jendela bus, aku mulai merenung. Harusnya aku tidak kabur, harusnya aku melihatnya untuk terakhir kali, tapi apakah hatiku mampu? "Lho, Saiful! Ternyata ente toh?" Panggilan dari sebrang kursi itu membuat hatiku semakin hancur. Umara Hasmarani Rizqiyah Malang, 25 Juli 2018 (06.56)