Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Harapan Yang Tertinggal

Untuk hati yang terluka Untuk jiwa yang sedih Dan untuk harapan yang tertunda Kadang kala, tak semua ramai itu selamanya Ada kalanya, yang lain datang, dan sebagian lainnya menghilang. Kadang kala, tak selamanya penuh itu ada. Dilain sisi ada yang tertinggal Sisi lainnya kemudian mulai menghilang Sama seperti harapan, tak selamanya akan terkabul Ada kalanya dia berjalan beriringan dengan semesta Ada kalanya dia tertinggal jauh di belakang semesta Puih asa dan jiwa yang kadang memberontak seolah menyalahkan semesta yang berjalan terlalu cepat. Atau menyalahkan harapan yang ternyata terlalu berat. Ruang introspeksi kemudian menilai tentang diri Tentang hati yang bertentangan dengan logika Umara Hasibuan Malang, 25 Juni 2019 Mengenan 15.00

Kamu Mahasiswa "Perantauan" Baru Kota Malang? Ini Tipsnya!

Kuliah di Jawa memang jadi favorit banyak calon mahasiswa, terutama kota kota pilihan yang sering dapat julukan terkait pendidikan. Kota Malang terkenal sebagai kota pendidikan, karena, ada banyak sekolah, terutama institusi perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dengan akreditasi yang baik ataupun sangat baik. Apalagi kota malang termasuk kota yang ramah pendatang, masyarakat yang ramah, dan juga suasana iklim yang ramah. Cocok untuk merangkum masyarakat dari suku bangsa yang berbeda-beda. Nah, buat para calon mahasiswa yang mau kuliah di Malang ini beberapa tips buat kamu sebelum menetap di Malang. 1. Punya kenalan. Ini hal paling mudah sih , mungkin kamu punya kakak tingkat, atau saudara, atau bahkan temannya orangtua-mu, kalau punya kenalan kamu mudah untuk mencari informasi kos-kosan terdekat dari kampus. 2. Mencari organisasi kedaerahanmu di Kota Malang. Kalau misalnya kamu belum punya kenalan, gampang, kamu tinggal search aja di Instagram, contohnya #MahasiswaRiauMala...

Ngabuburit Sore ini

Hari ini, setelah telfon ayah tadi pagi, dikasih tau, kalau Dek Nuku mau kuliah di Jawa aja, Alhamdulillah, semua tempat menuntut ilmu itu baik, niat yang baik insyaaAllah diberkahi Allah. Sore itu, sekitar 35 menit sebelum Adzan Maghrib di Malang, saya menghubungi Nuku buat sekedar sharing , obrolan kami mulai berlanjut ke masalah teman-teman lama saya yang juga dia kenal. "Bang ini udah lahir lho kak, anaknya, kawan kakak waktu SD kan?" "Eh iya deh, Alhamdulillah kalau gitu" "Kakak yang itu juga Desember ini mau nikah kak" "Iya??? MasyaAllaaaah, tabarakallah" "Tulah, kakak aja yang belum" "Menurut Nuku kakak bagusnya kek mana?" "Kalau aku ya terserah kakak, tapi baiknya kakak cepat nikah aja" "Kenapa kayak gitu?" "Supaya tanggung jawab Ayah berkurang, kan kalau misalnya kakak keluar rumah ndak pake jilbab, Ayah juga yang dosa" "Iya sih, tapi kan kakak pake jilbab terus" ...

Tentang Jodoh

Kurang lebih sebulan yang lalu seorang sahabat menyampaikan bahwa saudara laki-lakinya akan menikah di April, jadi minta tolong buat ikut rombongan keluarga saat akad, MasyaAllah, Barakallah. Hampir beberapa Minggu setelah itu, seorang teman seangkatan memberi kabar bahwa kurang dari 7 hari akan ada akad antara dia dan suaminya saat ini, rasanya satu hal yang luar biasa, mengingat betapa teman saya itu tidak punya tanda-tanda ingin segera menikah. Padahal di semester sebelumnya saya sempat menggodanya mengatakan "wah, nikah aja dah" yang dibalas tawa renyah sembari berkata "kamu dulu wes UM, baru aku." Tapi undangan itu memberi pandangan berbeda bagi saya, bahwa, jalan Allah kadang tak sempat dipikirkan oleh akal, terlalu tinggi ilmu tersebut. Beberapa hari sebelum penyampaian undangan dari teman yang kedua, sahabat saya juga menyampaikan bahwa, kemarin ada yang meminta dia untuk sama-sama meraih Ridho Allah. Namun, dia memutuskan untuk menyelesaikan Strata satu ...

Puisi Personifikasi

Aku masih di sini menatap sendunya langit Masih jelas malam itu raungan mobil yang saling bersahutan Masih jelas kerlip bintang yang menyelimuti langit Masih jelas hembusan angin malam membelai mesra Tapi, entah apa yang terjadi Semua seolah gelap dalam sekejap Tak lagi ada rayuan ombak yang tenang Tak lagi ada desiran pohon berbisik Ombak ombak dan kami berlari berpacu bersama Memakan satu demi satu ruang yang tertinggal di belakang Tak lagi ingat untuk apa harus ada di dunia Tak lagi ingat harus mencari siapa Tak lagi ingat apa yang sedang ku lakukan Bisikan ombak semakin kencang Langit seolah mendukung dengan teriakan petir yang tak henti Tuhanku, ku rasa aku ingin berhenti Ingin menoleh ke belakang Ingin mengintip apa yang aku tinggalkan Tapi kini Semua tampak nyata Tak lagi ada deru mobil karena jalanan sudah habis digulung ombak Tak lagi ada sahutan pohon karena sudah diruntuh ombak Bahkan, akupun tak punya lagi tempat untuk sekedar berteduh Tuhan, aku ragu...

Menikah

Tentang  banyaknya undangan pernikahan yang saya terima kurang dari tiga bulan ini, menyadarkan saya bahwa saya sudah setua itu untuk terus memikirkan diri sendiri. Bukan tentang rasa iri karena yang lain sudah berpasangan, toh Rezki, jodoh, dan maut itu adalah hal pasti, yang masih jadi abu abu, hanya perihal surga dan neraka. Satu persatu teman teman mulai menyebar undangan, mulai pasang foto dengan cincin di jari manis sebelah kiri yang menandakan akan segera juga melepas status single. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya jadi mulai sadar dengan umur. Dua puluh satu menuju dua puluh dua adalah angka yang fantastis ternyata, saya sudah melewati dua dekade lebih dalam hidup. Tapi urusan yang serius seperti menikah masih belum bisa tertanam kokoh di hati, masih dikalahkan bahwa saya harus lulus sekolah, untuk saya, untuk tanggung jawab saya, dan untuk orang tua saya. Dan buat teman teman yang sudah berjalan bersama gandengan untuk meraih Jannah bersama, Barakallah, semoga ...

Apakah Keadilan Masih Untuk Semua?

Gadis kecil dengan ringkih mengayuh kaki menuju cahaya Melawati temaram sinar buatan tangan manusia Malam menjadi kegelapan yang tak ada habisnya Gadis kecil yang tak lagi indah saat mulai menampakkan raga Tak lagi bahagia saat mulai merangkai tawa Gadis kecil dengan sejuta doa Gadis kecil dengan kerapuhan yang nyata Mereka bilang dunia sama adilnya Mereka bilang hati sama lebarnya Dan mereka bilang bahagia punya semua Menipiskan dahaga untuk menyambung nyawa Atau meninggikan dagu untuk menahan rasa Menjadi jawaban atas segala kepunahan putus asa Jauh dari sana tak lagi terlihat nyata Hanya puluhan bom yang sudah menjadi biasa Dekap nyata tak lagi terasa hangatnya Hanya air mata yang menjadi selimut rasa Apakah keadilan masih untuk semua? Umara Hasibuan Malang, 20 Februari 2019