Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Ariniku!

22 September 2018 Aku cukup terkesima dengan wanita di depanku. Ya, pagi tadi dia sudah ada di depan apartemen studio yang kusewa kurang lebih dua tahun terakhir. Ah ! Arini selalu terlihat cantik dengan pakaian apapun, bahkan saat dia terlihat lebih kurus dan pucat seperti saat ini pun, dia tetap menawan. Senyumku tak berhenti mekar saat dia menyajikan masakannya untukku. Calon istri idaman memang. Kami mulai menyusuri satu demi satu varian kera-dan sebangsanya, tersenyum sambil merangkul mesra. Ah , bahkan kami menjadi tontonan gratis pengunjung lain. Aku agak malu sebenarnya, tapi kata Arini, toh tak ada yang mengenal kami. Hari-hari terus terlewati. Tak ku sangka sudah dua minggu Arini menemaniku. Ini sudah saatnya aku kembali ke rumah seperti jadwal biasa. Setiap libur semester, aku akan kembali ke Jakarta menemui keluargaku. Heran sejujurnya, Arini tak pernah mau aku ajak ke Singapore menemaniku. Aku bahkan pernah menawarkan pernikahan padanya, tapi dia bilang dia menungguku...

Masih Sama

Rasanya masih sama Masih sedalam itu Masih sejauh itu Dan masih sesakit itu Konfigurasi huruf ini masih meninggalkan kesan yang sama harunya Ah! Kau masih sama indahnya Entah harus berjalan berapa lama lagi untuk mengurangi rasanya Untuk memberi bumbu berbeda pada rasanya Hatiku masih kamu juga penjaganya Bila semua diksi puitis dimulai dari hancurnya hati Kenapa selalu aku yang rasa Kenapa selalu aku yang hancur Kenapa selalu aku yang sadar bahwa kamu juga selalu tak peduli Umara Hasmarani Rizqiyah Hasibuan Kota Dingin, 31 Juli 2018

Rasa

Setelah semuanya, sekarang benar-benar akhir dari perjuanganku. Kedekatan yang terjalin selama empat tahun terakhir meninggalkan kenangan yang indah dalam hatiku. Dinginnya kota Batu fajar itu tidak semeremukkan rusuk seperti sakitnya hati ini. Besok adalah hari bahagia pria itu. Ya, kedekatan kami setelah dia membantuku di masa orientasi kala itu hanya angin lalu baginya. "Kamu saudaraku yang paling terbaik." Ah ! Salahkah aku menuntut lebih. Aku tau ini salah, hatiku terpaut pada yang bukan miliknya. Wanita yang dijumpainya satu bulan lalu di kajian ustadz kondang itu sudah dia lamar. Lantunan " sah " akan menggema besok. Sambil memandangi embun yang menempel di jendela bus, aku mulai merenung. Harusnya aku tidak kabur, harusnya aku melihatnya untuk terakhir kali, tapi apakah hatiku mampu? "Lho, Saiful! Ternyata ente toh?" Panggilan dari sebrang kursi itu membuat hatiku semakin hancur. Umara Hasmarani Rizqiyah Malang, 25 Juli 2018 (06.56)

NAK, MAIN KE RUMAH IBU YA, AJAKIN ADEKNYA BIAR NANTI MAU KULIAH JUGA

Surabaya siang itu panas banget memang, dari pagi saya dan salah seorang rekan sudah berangkat dari Malang pakai bus ekonomi seharga lima belas ribuan dalam satu kali perjalanan. Rencana awal kita, ke Serviced Office , terus berburu buku murah di Kampung Ilmu. Tapi ya apa daya? Saat ke kantornya saya ditolak untuk bisa survey, ya mau bagaimana lagi? Hari juga udah terik banget, azdan Dzuhur sudah sahut-bersahutan dari satu masjid dan masjid lainnya. Akhirnya kita putuskan buat lanjutin perjalanan ke Kampung Ilmu. FYI , Kampung Ilmu itu sejenis pasar buku murah yang ada di Surabaya, ya kalau di Malang sih kayak Wilis. Bukunya ya rata-rata diprint pakai kertas koran, kalau di Toko Buku ber-AC mungkin 80 ribuan, disini bahkan bisa ditawar jadi 15 ribu, ya namanya juga bajakan. Perjalanan dari Serviced Office ke Kampung Ilmu sekitar 20 menit-an lah , kita pakai Grab buat kesana. Alhamdulillah dapet driver yang ramah. Disini kita diajakin diskusi tentang Indonesia sama bapaknya, t...

Enggrang

Masih dengan kokoh, enggrang tua itu menjadi rebutan tiap anak. Meski sudah tua, buku-buku bambunya masih terlihat tegas, seolah mengundang anak-anak untuk bermain bersama. Enggrang setinggi satu setengah meter itu dibuat Mbok Sum untuk bermain anak-anak dari bambu belakang rumah almarhumah. Walau sudah menua, dia masih kokoh, namun bila azan berkumandang, bambu tua itu terlihat lelah. Seolah bingung, bagaimana menghalau para anak seperti yang selalu Mbok Sum lakukan. Seolah bersedih, dirinya menjadi alasan mereka lalai pada Tuhannya. Umara Hasmarani Rizqiyah Surabaya, 13.28

Motor Tua Punya Bapak

Sore itu, rumah sudah mulai sepi, para warga yang tadi ikut mengantar Bapak ke tempat terakhir menuju Tuhannya mulai kembali ke rumah masing-masing. Aku masih terpaku di depan rumah, duduk di kursi goyang reot yang selalu digunakan bapak sambil minum teh atau sekedar bermain dengan cucu-cucunya. Dari sisi ini nampak motor butut Bapak yang sudah menemani almarhum lebih dari 40 tahun. Bapak bilang, sebelum mampu membeli mobil, dulu motor tua itu yang mengantar Bapak ke kantor, menemani Ibu berbelanja, dan juga mengantar aku pulang pergi sekolah. Masih terngiang, saat duduk di bangku SMA, bapak mulai bisa membeli mobil, karena adik adikku juga sudah besar. Dua motor sebelumnya bapak jual untuk menutup dana mobil, tapi bapak kekeh untuk mempertahankan motor tuanya. "Biarlah, itu bapak pakai ke majid saja." Itu kata Bapak. Lagian siapa yang akan membeli motor tua seperti itu, harganya juga pasti rendah, pikirku. Tampak warna merahnya mulai memudar, bercampur dengan sedikit putih...

Yang sudah Lalu

Kala rindu menyapa Ragu pun melanda Kala hati menepi Rasa mulai menghakimi Mungkin kita jauh Mungkin kita rapuh Dan mungkin kita juga jenuh Entah nanti Bilai kita bertemu Apa kita saling suka Apa kita saling cinta Apa kita saling benci Atau kita kembali seperti semula Sama sama tidak mengerti Umara Hasmarani 8 Juli 2018 20.38