Langsung ke konten utama

Postingan

Jangan Suudzon dong Mbak!!

Kali ini masih tentang pengalaman yang mungkin aja banyak yang bilang, elah receh deh , itu aja diceritain. But, I just can’t handle mine buat nggak menyalurkan ini. Jadi, tanggal 24 kemarin saya dan salah seorang teman datang ikut kajiannya ustadz Abdul Somad. Kita berangkat dari jam 15.30, sampai di masjid Jagalan (lokasi kajian) udah rame banget, kita juga parkir motornya jadi jauh, dan jadilah kita dapat tempat duduk di teras masjid di lantai dua. Jadi disini sempit-sempitan banget. Yang di dalam masjid sama panitia diatur serapi mungkin supaya nanti sholatnya gampang. Beda sama yang dapet duduk di teras, of course nggak semuanya sholat. Jadi setelah dapat tempat duduk langsung masstiian pas buat sholat. Udah ancang-ancang mau letakin sutroh nantinya. Setelah berapa puluh menit, masjid jadi makin ramai, panitia juga udah membatasi jamaah yang baru dating supaya nggak usah naik lantai dua. Eh tiba tiba tempat yang udah kita jaga buat sholat nanti dijadiin tempat ...

Fredrich Silaban, Putra Pendeta Kesayangan Soekarno

Oleh : Umara Hasibuan Saat ini, Islam memang sedang berada jauh dari rangkaian keutuhan Negara. Dalam artian, Islam seperti yang sudah Allah sebutkan, aka nada masanya pada tingkat terbawah, itulah ujian ummat sebelum datang fitnah terbesar. Tapi, untuk tulisan kali ini, saya ingin mengangkat mengenai salah satu tokoh. Karya arsitektural-nya yang mendunia dan benar-benar kokoh serta menjadi pondasi toleransi bernegara. Karena, dalam toleransi beragama, saya sendiri masih belum berani megmbil posisi dalam bagian itu. Masjid Istiqlal, sebuah masjid dengan gaya arsitektur modern minimalis. Masjid terbesar di asia Tenggara ini, selesai dibangung pada 22 Februari 1978. Siapa yang sangka, ada banyak cerita pilu dalam perjalanan pembangunan luar biasa ini. Dia, Fredrich Silaban. Terlahir menjadi seorang putra pendeta, pria Kristen protestan kelahiran Bonandolok, Tapanuli, Sumatera Utara, 16 Desember 1912 ini adalah lulusan STM di Jakarta. Karir ke-arsitektur-annya ia mulai dari p...

Praktik kerja lapangan, Onino Architecture Studio

Another nih, Mungkin kalau judulnya bukan di atas, banyak yang nggak tertarik kali ya ? Haha Jadi, saya sedang Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Onino Architecture Studio. Lokasinya ada di Griya Shnata D-337, di Sukarno Hatta, Kota Malang. Lokasinya strategis banget kalau boleh jujur. Di tengah kota, deket Indomaret, deket Togamas, dan yang pasti, cuma beberapa langkah saja untuk ke Masjid. Masjid Al-Ghifary, jadi di sana ada Khuttabah gitu, satu level sama SD. SD Islam, jadi sekolah ada dalam lingkungan masjid. Saat istirahata Zuhur, saya dan semua rekan akan sholat Zuhur disina, dan bisanya bersamaan dengan para siswa yang juga Sholat. Sekolahnya Islam terpadu, saya jadi flashback ke masa-masa SD , haha , disana mereka kayaknya banyak kegiatan, dan mereka juga nggak selalu pakai seragam sekolah, mungkin supaya anak-anak pada terbiasa untuk menggunakan pakaian muslim. Sebagian besar mereka ada yang menggunakan cadar. Bila ditinjau dari masa sekarang, betapa banyak or...

Masjid dan Anak

Jadi mo sharing ringan sih , kan kemaren sempet pergi ama temen, kita mau beli sepatu. Sebagai anak kosan yang harus mathemat , akhirnya kita berburu diskon akhir tahun deh . Intinya bukan itu siih , Jadi kita belinya di Matahari deket alun-alun. Karena cewek kalo belanja, ya you know lah, ngabisin waktu, jadinya kita keujanan ampe maghrib. Terus kita sholat deh di masjid alun alun Nah , disini banyak banget orangnya, ya yang neduh lah , atau yang emang lagi wisata gitu di Malang. Disana, wih , banyak anak kecilnya, Mereka pada lari-larian di dalam masjid, kejar kejaran. Ada beberapa jamaah yang ngebiarin aja, ada juga yang nyegah sambil nyuruh diem . Saya jadi flashback, wkwk , saya juga dulu pernah dimarahin kok dek, karena ngeribut di masjid, hehe . Nah , saya mulai berpikir, kan anak anak itu memang masa bermain, dan mereka pasti senang kalau main di masjid, secara, masjid luas, dan juga kalau jatuh nggak terlalu sakit karna ada karpet. Tapi, kalau mereka waktu...

Bicara Tentang Ibu, Bicara Tentang Rasa

Sebagai seorang mujahidah, jihad menuntut ilmu di jalan Allah, saya mulai merasakan banyak perbedaan dalam tiap langkah saya. Berada jauh dari keluarga, dan mulai mengatur tingkat produktivitas sendiri, membuat saya mulai memahami arti dari belari. Kenapa berlari? Karna berlari itu butuh banyak respon kerjasama antar tubuh. Dari pengelolaan pernapasan, pengelolaan langkah, dan pengelolaan emosi. Itu juga yang saya pahami tentang menjadi sigle fighter dalam daily activities saya. Beberapa tahun yang lalu, saya masih di bawah ketiak Ibu dan Ayah, di bawah ketiak means , saya terbiasa melakukan semua hal dengan bimbingan. Ibu, terlalu dalam rasa yang saya rasakan saat kata itu terlontar. “Buk, baju kakak yang kemarin dimana ya?” “Buk, kok ini begini sih?” “Buk, kakak mau beli ini dong” “Buk, kakak mau ini” “Buk, kakak mau yang itu” “Buk, nanti bangunin jam segini ya” “Buk,” “Buk,” “Buk.” Dan masih banyak yang lainnya. Ibu menjadi semua hal mendasar yang ...